Al Ibanah : Kupas Tuntas Penyimpangan Aqidah Al Asy’ariyah

//Al Ibanah : Kupas Tuntas Penyimpangan Aqidah Al Asy’ariyah

al-ibanah

Al Ibanah : Kupas Tuntas Penyimpangan Aqidah Al Asy’ariyah
Judul asli : Al-Ibaanah ‘An Ushulud Diyaanah
Penulis : Imam Abul Hasan Al Asy’ari
Taqdim : Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshari, Syaikh Isalamil Al Anshari, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Fisik : buku ukuran sedang, softcover, 242 hal
Penerbit : pustaka at Tibyan

ibanah-book

Mayoritas kaum muslimin yang berada di berbagai belahan negeri Islam menisbatkan aqidah mereka kepada Abul Hasan Al-Asy’ary. Namun sangat disayangkan, mereka tidak mengenal sedikitpun tentang Abul Hasan dan juga tidak mengetahui aqidah terakhir yang beliau yakini yang menjadikan diri beliau termasuk dalam deretan imam-imam yang menjadi panutan. Kami ingin menerangkan kepada mereka hakikat sebenarnya tentang imam yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang-orang yang menisbatkan diri mereka kepada beliau dan berpegang dengan aqidah beliau berdasarkan literatur muktabar yang telah diteliti.

Siapa Abul  Hasan Al-Asy’ary?
Beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ary -rahimahulloh-
Lahir pada tahun 260 H. Identitas ini disebutkan oleh :
Abul Qasim Ali bin Hasan bin Hibatullah bin ‘Asaakir Ad-Dimasyqy [imam ibnu asaakir asy syafii]  dalam kitabnya Tabyiinul Kidzbil Muftari Fima Nusiba Ila Abil  Hasan Al-Asy’ary, Khathib Al-Baghdady dalam kitab Tarikh Baghdaady, Ibnu Khalkan dalam Wafayaatul A’ay an, Adz-Dzahaby dalam Tarikh Islam, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Thabaqaatul Asy-Syaafi’iyah, Taajuddin As-Subki dalam ThabaqaatulAsy-Syaafl’iyah Kubra, Ibnu Farhun Al-Maaky dalam Dibadzul Madzhab Fi Al-A’yaanil AhliI Madzhab, Murtadha Az-Zubaidy dalam Itthaafus Saadatul Mutqin bt Syarh Asrar Ihya ‘Ulumuddtn, Ibnul Ammar Al-Hanbali dalam Syadzraat Adz-Dzahab fi Al-A’yaani min Dzahab dan lain-lain.

Imam Abul Hasan Al-Asy’ary datang ke kota Baghdad dan mengambil hadits dari Al-Hafizh Zakariya bin Yahya As-Saajy [Salah seorang murid Imam Ahmad bin Hanbal] salah seorang imam hadits dan fiqh, dari Abi Khalifah Al-Jumahi, Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqry dan Abdurrahman bin Khalaf Al-Bashry. Beliau banyak meriwayatkan dari mereka dalam kitab tafsir beliau berjudul Al-Mukhtazin. Beliau juga mengambil ilmu kalam dari gurunya yaitu suami ibunya yang bernama Abi Ali Al-Jubba’i, salah seorang tokoh Mu’tazilah.

Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan Al-Khathib Al-Baghdady wafat tahun 463 H dalam tarikhnya yang terkenal, tarikh al Baghdadi  juz 10 halaman 346 berkata, “Abul Hasan Al-Asy’ary adalah pemilik berbagai kitab yang membantah kaum mulhid dan lain-lainnya dari kalangan Mu’tazilah, Rafidhah, Jahmiyah, Khawarij dan berbagai kelompok bid’ah lainnya.”…. kemudian beliau mengatakan, “Pada waktu itu kaum Mu’tazilah sedang berjaya hingga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  memunculkan Abul Hasan Al-Asy’ary yang akhirnya menghujat mereka hingga tak berkutik.”
Ibnu Farhun berkata dalam kitab Ad-Dibaj, “Abu Muhammad bin Abi Zaid Al-Qiruwany dan imam-imam lainnya memberi pujian terhadap Abul Hasan Al-Asy’ary.”

Ibnul ‘Imad Al-Hanbali berkata dalam kitab Asy-Syadzaraat (II/303), “Di antara perkara yang membuat Ahli Sunnah semakin kuat dan membuat hina panji-panji kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah serta menjelaskan kebenaran yang sudah nyata dan membuat dada ahli iman dan ahli ma’rifah sejuk adalah perdebatan Abul Hasan Al-Asy’ary dengan gurunya, Al-Jubbaa’i, yang hasilnya mematahkan kekuatan semua pelaku bid’ah dan tukang debat. Perdebatan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khalkan, “Abul Hasan Al-Asy’ary mengajukan tiga pertanyaan kepada ustadznya, Abu Ali Al-Jubbaa’i tentang tiga orang bersaudara. Yang pertama seorang mukmin, baik dan bertaqwa, yang kedua kafir, fasiq dan jahat dan yang ketiga masih kecil. Kemudian ketiga-tiganya mati, bagaimana keadaan mereka nanti?” Al-Jubba’i menjawab, “Adapun yang mukmin maka ia berada di tempat yang tinggi (surga), sedang yang kedua berada di tempat yang paling rendah (neraka) dan yang masih kecil termasuk orang-orang yang selamat (dari neraka).”

Abul Hasan Al-Asy’ary bertanya lagi, ‘Jika si kecil ingin ke tempat saudara yang mukmin tadi, apakah ia akan diberi izin?” Al-Jubba’i menjawab, “Tidak boleh! Karena akan dikatakan kepadanya bahwa saudaramu dapat mencapai derajat ini karena ia banyak beramal, sementara kamu tidak mempunyai amal ketaatan.” Abul Hasan Al-Asy’ary berkata, “Jika si kecil menjawab, “Kesalahan ini tidak terletak padaku, karena Allah tidak membiarkan usiaku panjang dan tidak mentakdirkan kepadaku untuk melaksanakan ketaatan.” Al-Jubba’i berkata, “Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan berkata, “Aku mengetahui, jika Aku biarkan usiamu panjang, kamu akan menjadi orang yang durhaka dan berarti kamu berhak mendapat azab yang pedih. Maka hal itu Aku lakukan demi kemaslahatanmu.”

Abul Hasan Al-Asy’ary berkata, “Jika saudaranya yang kedua berkata, “Wahai Ilaah semesta alam, sebagaimana Engkau mengetahui keadaannya tentunya Engkau juga sudah mengetahui keadaanku, lantas mengapa Engkau tidak memperhatikan kemaslahatanku?” Mendengar hal itu Al-Jubbaa’i pun terdiam.”
Ibnul Imaad berkata, “Perdebatan ini menunjukkan bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menimpakan azab atas siapa saja yang Dia kehendaki.”

Taajuddin As-Subki dalam Thabaqaat Asy-Syaafi’iyah, ia berkata, “Abul Hasan Al-Asy’ary seorang ulama besar Ahli Sunnah setelah Imam Ahmad bin Hanbal dan tidak diragukan lagi bahwa aqidah beliau sama dengan aqidah Ahmad bin Hanbal. Hal ini dengan jelas beliau sebutkan berkali-kali dalam buku-buku beliau, “Aqidahku seperti aqidah Al-Imam Ahmad bin Hanbal.” Demikianlah ucapan Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ary di berbagai tempat dalam bukunya.

Ulama-ulama hadits sepakat bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary adalah salah seorang imam ahli hadits dan madzhab beliau juga madzhab ahli hadits. Beliau berbicara tentang ushuluddin menurut metode ahlu sunnah, membantah kelompok sesat dan bid’ah. Beliau menghunuskan pedangnya terhadap kaum Mu’tazilah, Rafidhah dan para mubtadi’ dari kalangan kaum muslimin dan juga terhadap orang-orang kafir. Barangsiapa mencela atau mencerca beliau berarti ia telah mencela seluruh ahli sunnah. Karena Abul Hasan Al-Asy’ary bukanlah orang pertama yang berbicara atas nama ahli sunnah tetapi sebelum beliau banyak para pembela madzhab yang haq ini. Beliau memperkuat hujjah dan penjelasan. Beliau bukan orang yang telah membuat metode baru atau madzhab khusus dan tidak berada di luar madzhab yang telah dipaparkan dan dijelaskan oleh para imam selain beliau.

Abu Bakar Ibnu Faurak berkata, “Abul Hasan Al-Asy’ary meninggalkan madzhab Mu’tazilah dan berpegang pada madzhab ahlu sunnah pada tahun 300 H.
Di antara ulama-ulama yang mengatakan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary bertaubat dari madzhab Mu’tazilah adalah Abul Abbas Syamsuddin Ahmad bin Muhammad bin Abi bakar bin Khalkan Asy-Syaafi’i [wafat pada tahun 681 H]. Beliau berkata dalam bukunya berjudul Wafayaaatul A’yaan (11/446), “Abul Hasan Al-Asy’ary dahulu adalah seorang penganut paham Mu’tazilah kcmudian bertaubat dari madzhab tersebut.”
‘Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasqy Asy-Syaafi’i [wafat pada tahun 774 H] mengatakan dalam kitabnya berjudul Al-Bidaayah wan Nihaayah (Xl/187), “Abul Hasan Al-Asy’ary dahulu adalah pengikut paham Mu’tazilah kemudian beliau bertaubat dari madzhab tersebut di kota Bashrah di atas mimbar lalu beliau membeberkan kekeliruan dan borok-borok Mu’tazilah.”

Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dimasyqy Asy-Syaafi’i yang dikenal dengan sebutan Adz-Dzahaby [wafat pada tahun 748 H] berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Uluw Lil ‘Aliyil Ghaffaar, “Dahulu Abul Hasan Al-Asy’ary adalah seorang penganut madzhab Mu’tazilah yang beliau ambil dari Abu Ali Al-Jubba’i   kemudian  beliau  membuang madzhab tersebut dan memberikan bantahannya, maka beliau pun menjadi seorang yang mendakwahkan As-Sunnah sesuai dengan imam-imam ahli hadits. Jika shahabat-shahabat kita yang mendalami ilmu kalam membaca buku Abul Hasan Al-Asy’ary tentunya mereka akan menjadikan buku tersebut sebagai pegangan dan tentunya mereka akan menjadi baik, namun mereka lebih suka menyelami ilmu tersebut sebagaimana para hukama’ terdahulu dalam menyelami sesuatu dan berjalan di belakang ilmu manthiq. Lahaula wala quwwata illa billah”

Taajuddin Abu Nashr Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As-Subky Asy-Syaafi’i [wafat taun 771 H] berkata dalam kitabnya Thabaqaat Asy-Syaafi’iyah AI-Kubra (11/246), “Abul Hasan Al-Asy’ary memegang madzhab Mu’tazilah selama 40 tahun hingga beliau menjadi seorang tokoh Mu’tazilah. Tatkala Allah ingin menolong agama-Nya, Dia mernbuka hati beliau untuk menerima kebenaran dan berdiam di rumahnya, menghilang dari keramaian masyarakat.” Kemudian ia menyebutkan perkataan Ibnu Asaakir yang lalu.

Burhanuddin Ibrahim bin Ali bin Muhammad bin Farhun Al-Ya’mari Al-Madany AI-Makky [wafat tahun 799 H] berkata dalam kitabnya yang berjudul Dibaajul Madzhab fi Ma’rifat A’yaani Ulama Madzhab hal. 193, “Pada awalnya Abul Hasan Al-Asy’ary adalah seorang penganut paham Mu’tazilah kemudian rujuk kepada madzhab yang benar yaitu madzhab Ah!u Sunnah. Banyak orang yang merasa heran hingga beliau ditanya tentang perkara tersebut, beliau menjawab bahwa beliau pernah melihat Nabi $g pada bulan Ramadhan yang memerintahkannya agar kembali kepada kebenaran dan membelanya. Demikianlah kenyataannya.

Sayyid Muhammad bin Muhammad Al-Husainy Az-Zubaidy yang dikenal dengan Murtadha Hanif [wafat pada tahun 1145 H] mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Ittihqfus Saadah Al-Muttaqiin Blsyarh Asraar Ihya’ ‘Ulumuddin (II/3), “Abul Hasan Al-Asy’ary mengambil ilmu kalam dari gurunya, Abu Ali Al-Jubbaa’i, salah seorang pembesar dan tokoh Mu’tazilah. Kemudian beliau meninggalkan gurunya tersebut disebabkan mimpi yang beliau lihat lalu beliau bertaubat dari paham Mu’tazilah dan mengumumkannya, beliau naik ke atas mimbar di kota Bashrah pada hari Jum’at dan berkata dengan lantang, “Bagi yang sudah mengenalku berarti ia telah mengetahui tentang diriku dan bagi yang belum kenal maka aku adalah fulan bin fulan, aku dahulu berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan di akhirat kelak makhluk tidak dapat melihat Allah serta para hamba menciptakan perbuatannya sendiri. Sekarang aku bertaubat dari keyakinan Mu’tazilah dan aku akan membantah keyakinan Mu’tazilah.”
Kemudian beliau memulai membantah keyakinan mereka dan menulis buku-buku bantahan terhadap mereka.

Kemudian   Sayyid   Muhammad   bin   Muhammad  Al-Husainy berkata lagi bahwa Ibnu Katsir berkata, “Disebutkan bahwa Abul Hasan AI-Asy’ary telah melalui tiga tahapan:
Tahapan pertama: Madzhab Mu’tazilah yang telah beliau tinggalkan secara total.
Tahapan kedua: Penetapan sifat aqliyah yang tujuh: Hayaat, Ilmu, Qudrah, Iradah, Mendengar, Melihat, Berkata-kata dan mentakwil khabar tentang wajah, dua tangan, kaki, betis dan yang semisalnya.
Tahapan ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allah dengan tidak menanyakan tentang kaifiyah-Nya, tidak menyerupakan dengan makhluk dan membiarkannya menuait kaidah-kaidah manhaj salaf. Demikianlah metode beliau dalam kitab Al-Ibaanah yang merupakan tulisan beliau yang terakhir.

Dengan demikian jelaslah bahwasanya apa yang dinukil dari para ulama tersebut adalah suatu hal tidak diragukan lagi dan tidak ada keraguan lagi bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary setelah meninggalkan paham Mu’tazilah beliau berpegang dengan aqidah salaf yang datang dari Al-Qur’anul Karim dan sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-

Kitab Al Ibanaah

Al-Hafizh Asaakir dalam kitabnya Tcrbyiinu Kidzbil Muftari berkata, “Ibnu Hazm Azh-Zhahiry menyebutkan bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary mempunyai 55 tulisan. Kemudian ia berkata, “Ibnu Hazm meninggalkan setengah dari jumlah tulisan beliau lantas tnenyebutkannya secara mendetail diantaranya kitab Al-Luma’ dan kitab yang menjelaskan tentang kekeliruan paham Mu’tazilah yang beliau beri judul Kasyful Asrar wa Hatkul Asrar.

Tafsir Al-Mukhtazin, menurut anggapannya sebanyak 500 jilid. Tidak satupun ayat yang berkaitan dengan kebid’ahan kecuali membatalkan kaitan tersebut dan menjadikannya sebagai hujjah bagi penganut kebenaran, menjelaskan yang masih global dan memberi penjelasan ayat yang rumit serta membatalkan apa yang telah diselewengkan oleh Al-Jubaa’i dan Al-Balkhi dalam tafsir mereka.
Kitab al-Fushul fi Raddi ‘Ala Mulhidiin wa Khaarijin ‘ala Mittah ka al-Falaasifah wa Thabaai’in wad Dahriyin wa Ahli Tasybih.
Maqalaat al-Muslimin yang mencakup semua perselisihan dan makalah-makalah kaum muslimin. Al-Hafizh Ibnu Asaakir menyebutkan dengan nama-nama serta tema kitab tersebut dalam kitabnya At-Tabyiin hal. 128 -136..

Ibnu Asaakir dalam buku At-Tabyiin hal. 128 berkata, “Tulisan-tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary sudah masyhur dan populer di kalangan alim ulama. Upaya dan keakuratan beliau dalam meneliti mendapat pujian dari kalangan para peneliti. Barangsiapa yang membaca kitab Al-lbaanah pasti akan mengetahui kedudukan beliau dalam bidang ilmu dan agama.

Kemudian pada hal. 152, ia berkata, “Abul Hasan Al-Asy’ary mempunyai aqidah yang lurus sebagaimana yang telah disebutkan. Menurut pandangan ahli ilmu dan para kritisi, beliau mempunyai madzhab yang benar dan sesuai dengan apa yang dipegang oleh kebanyakan ulama yang senior (dalam bidang ilmu). Tidak ada yang mencela aqidah beliau melainkan orang-orang jahil dan keras kepala. Untuk menunaikan amanah, kita harus menceritakan aqidah beliau yang sebenarnya. Untuk menghindari sifat khianat maka kita berupaya tidak menambah-nambahi atau menguranginya agar pembaca mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan beliau yang mempunyai keyakinan landasan agama yang benar.

Di antara para ulama yang menisbatkan buku Al-Ibaanah ini kepada Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Al-Hafizh Al-Kabir Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqy, [wafat pada tahun 458 H] dalam kitabnya Al-I’tiqad wal Hidayah Ilaa Sabili Ar-Rasyaad pada bab Al-Qaulu bil Al-Qur’an hal. 31, “Asy-Syaafi’i menyebutkan bahwa bukti yang menunjukkan Al-Qur’an yang kita baca dengan lisan, yang kita dengar dengan telinga dan yang kita tulis dalam mushaf disebut Kalaamullah adalah bahwasanya Allah berbicara dengan Al-Qur’an kepada hamba-Nya dan mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Qur’an dan maknanya. Hal ini juga disebutkan oleh Ali bin Ismail dalam kitabnya Al-lbaanah. Pada halaman 22 dalam buku yang sama ia berkata, “Abul Hasan Ali bin Ismail dalam kitabnya Al-Ibaanah berkata, “Jika seseorang berkata, “Kalian katakan bahwa Kalamullah ada di lauhul mahfuzh.” Maka dikatakan kepadanya, “Kami berkata seperti itu karena Allah fli berfirman:
Yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuzh. ” (QS. AI-Buruuj: 21-22)

Jadi AI-Qur’an yang berada di Lauhul Mahfuhz itulah yang berada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan yang dibaca dengan lisan sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) AI-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. ” (QS. Al-Qiyaamah: 16)
Dan AI-Qur’an itulah yang tertulis dalam mushhaf, terpelihara dalam dada, terucap oleh lisan dan juga terdengar oleh kita. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya la sempat mendengar firman Allah. ” (QS. At-Taubah: 6)
Kemudian pada halaman 36, setelah menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa AI-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, beliau berkata, “Ali bin Ismail Abul Hasan AI-Asy’ary  berhujjah dcngan pasal-pasal ini.” Dari naskah manuskrip yang ditulis pada tahun 1086 H

Al-Hafizh Adz-Dzahaby juga menisbatkan kitab Al-Ibaanah kepada Abul Hasan Al-Asy’ary. la berkata dalam kitabnya Al-‘Uluw AI ‘Aliyil Ghaffaar hal. 278, ‘Abul Hasan Al-Asy’ary berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ft ushulud Dlyaanah dalam bab istiwa’ (bersemayamnya Allah di atas arsy), “Jika seseorang berkata, “Apa pendapatmu tentang istiwa’?” Maka jawabnya, “Kami berpendapat bahwa Allah beristiwa’ di atas Arsy sebagaimana firman Allah
“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaahaa: 5) ‘  Demikianlah hingga akhir kitab Al-Ibaanah.

Lantas ia berkata, “Kitab Al-Ibaanah adalah kitab Abul Hasan Al-Asy’ary yang paling populer. Kitab ini diperkenalkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asaakir. Kitab ini disalin dan dipegang oleh Al-Imam Muhyiddin An-Nawawy.
Adz-Dzahaby meriwayatkan dari Al-Hafizh Abul Abbas Ahmad bin Tsabit Ath-Thuraqy, bahwa ia berkata, “Aku membaca kitab Abul Hasan Al-Asy’ary yang berjudul Al-Ibaanah tentang dalil yang menetapkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. la juga menukil dari Abu Ali Ad-Daqqaaq bahwa ia mendengar Zahir bin Ahmad Al-Faqih berkata, “Imam Abul Hasan Al-Asy’ary wafat di rumahku. Ketika sedang sekarat beliau mengucapkan, “Semoga Allah melaknat Mu’tazilah yang keliru dan bodoh.” sampai di sini selesai ucapan Adz-Dzahabi.

Di antara yang menisbatkan buku ini kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Ibnu Farhuun Al-Maaliky. la berkata dalam kitabnya Ad-Dibaaj hal. 193-194, “Di antara kitab yang ditulis Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Al-Luma’ Al-Kabir, Al-Luma’ Ash-Shaghir dan kitab Al-Ibaanah fl Ushulid Diyaanah.”

Di antara yang menisbatkan buku ini kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Abu Fallah Abdul Hayyi bin ‘Imaad Al-Hanbaly [wafat pada tahun 1098 H]. la berkata dalam kitabnya Syadzaraat Adz-Dzahab fi  A’yaanil Madzhab (11/303), “Abul Hasan Al-Asy’ary telah berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ft Ushulid Diyaanah dan ini adalah kitab beliau yang terakhir. Dan kitab ini menjpakan pegangan bagi para pembela beliau terhadap orang-orang yang mencela beliau. Kemudian Abu Fallah menyebutkan satu pasal lengkap dari buku Al-lbaanah tersebut.

Di antara yang menisbatkan buku ini kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ary adalah Sayyid Murtadha Az-Zubaidy. la berkata dalam kitab Ithaafus Saadah AI-Muttaqiin bi Syarhi Asraari Ihya’ Ulumuddin (II/2), “Setelah Abul Hasan Al-Asy’ary meninggalkan madzhab Mu’tazilah beliau menulis kitab At-Mujiz sebanyak 3 jilid, kitab Mufiid fi Radd ala Jahmiyah wal Mu’tazilah, Maqalaatul Islamiyin dan kitab Al-Ibaanah.
Telah kita singgung perkataan Ibnu Katsir bahwa Al-Ibaanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Abul Hasan Al-Asy’ary.

Di antara yang meyebutkan bahwa Al-Ibaanah adalah tulisan Abul Hasan AJ-Asy’ary adalah Abul Qaasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas Asy-Syaafi’I [w 605H]  ia berkata dalam kitab Adz-Dzabb ‘An Abil Hasan Al-Asy’ary, “Wahai saudara-saudara sekalian! Ketahuilah bahwa Al-Ibaanah ‘An Ushulud Diyaanah adalah kitab yang ditulis oleh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al-Asy’ary yang merupakan keyakinan beliau yang terakhir berkat kanunia dan rahmat Allah, buku ini berisikan kepercayaan beliau dalam agama Allah  setelah beliau bertaubat dari keyakinan Mu’tazilah. Semua buku yang dinisbatkan kepada beliau yang bertentangan dengan yang beliau rulis setelah beliau bertaubat maka beliau tidak bertanggung jawab di depan Allah. Sebab dengan tegas beliau menyatakan bahwa (buku) ini mengungkapkan kepercayaan beliau dalam agama Allah. Beliau meriwayatkan dan menetapkan bahwa buku tersebut berisi keyakinan para shahabat, tabi’in, imam-imam hadits yang terdahulu dan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahulloh-  Isi buku tersebut dapat dibuktikan kebenarannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Lantas apakah boleh dikatakan bahwa beliau telah bertaubat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah? Lalu dari madzhab manakah beliau bertaubat? Bukankah meninggalkan madzhab Al-Qur’an dan Sunnah Nabi bertentangan dengan ajaran yang dipegang oleh para shahabat, tabi’in dan para imam ahli hadits yang diridhai? Berarti jelaslah bahwa beliau berada di atas madzhab mereka dan meriwayatkan dari mereka. Sungguh hal ini tidak pantas dilakukan oleh orang awam muslimin apalagi para imam kaum muslimin! Atau apakah dikatakan bahwa beliau jahil terhadap apa yang beliau nukil dari para salaf terdahulu padahal 13 Wafat tahun 605 H.

Beliau telah menghabiskan usia untuk meneliti berbagai madzab  dan rnengetahui berbagai jenis agama. Bagi orang yang insyaf akan mengakui hal ini dan tidaklah berprasangka seperti itu kecuali seorang yang takabbur dan congkak.”

la (Abul Qasim ibnu darbas) ada menyinggung tentang kitab al ibaanah  serta menjadikannya sebagai pegangan dan me nyimpulkan  kitab itu adalah tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary. Ia juga memuji isi kitab tersebut dan membersihkan segala kebid’ahan yang dituduhkan  kepada beliau. Banyak para imam terkenal dari kalangan pakar ahu fiqih Islam, qurra’, para penghafal hadits dan lain-lain menukil dari kitab Al-Ibaanah ini.

Ibnu Darbas menyebutkan kelompok yang telah kita singgung tadi dan ditambahkan oleh Al-Hafizh Abul Abbas Ahmad bin Tsabit Al-‘Iraqy dan disebutkan bahwa beliau menjelaskan dalam bukunya tentang masalah istiwa’, “Aku melihat orang-orang Jahmiyah berorientasi pada keyakinan yang menafikan ketinggian Allah di atas arsy-Nya dan menakwil kata istiwa’ lantas menisbatkan hal itu kepada Abul Hasan Al-Asy’ary. Ini bukanlah awal kebatilan yang mereka ucapkan dan bukan pula awal kedustaan yang mereka lontarkan. Aku telah rnelihat berbagai dalil penetapan sifat istiwa’ yang tercantum dalam kitab beliau yang bernama Al-Ibaanah ‘An Ushulul Diyaanah, seperti yang telah aku sebutkan. Al-Imam Al-Ustadz Al-Haafizh Abu Utsman Isma’il bin Abdirrahman bin Ahmad Ash-Shaabuni tidak keluar dari majelis ta’limnya kecuali kitab Al-Ibaanah tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary dalam pegangannya dan menampakkan kekaguman beliau terhadap kitab tersebut dan berkata, “Tiada alasan untuk mengingkari kitab ini yang berisi penjelasan madzhabnya.”

Di antara yang menisbatkan buku ini kepada Imam Abul Hasan AI-Asy’ary  adalah AJ-Faqih Abul-Ma’aly Mujla pemilik kitab Fiqih Adz-Dzakhaair. Ibnu Darbas berkata, “Beberapa orang telah menceritakan kepadaku dari Abi Muhammad AI-Mubaarak bin Ali Al-Baghdaadi dan aku nukil dari tulisan Abul Hasan Al-Asy’ary sendiri pada akhir kitab Al-Ibaanah, ia berkata, “Aku menukil semuanya dari naskah yang disimpan oleh Syaikh AI-Faqih Al-Mujalla Asy-Syaafi’i yang beliau keluarkan dari sebuah jilid. Kemudian aku menyalinnya dan memperlihatkan kepada beliau. Beliau (AI-Faqih AI-Mujalla Asy-Syaafi’i) menjadikan keterangan yang terdapat dalam  kitab itu   (Al-lbaanah) sebagai pegangan  beliau seraya berkata, “Sungguh hebat penulisnya, ia mematahkan hujjah siapa saja yang mengingkarinya.” Hal ini ia katakan langsung kepadaku dan berkata, “Inilah madzhab yang aku pegang. Aku menukilnya pada tahun 540 H di kota Makkah dan inilah akhir dari apa yang aku nukil dari tulisan Ibnu Baththah dan menyebutkan di antara orang-orang yang menisbatkan Al-Ibaanah kepada Abul Hasan AI-Asy’ary ialah Abu Muhammad bin Ali AI-Baghdady yang tinggal di Makkah. Ibnu Darbas berkata, ‘Aku menyaksikan naskah kitab Al-Ibaanah yang beliau (Abul Hasan Al-Asy’ary) tulis dari awal hingga akhir milik guru kami, pimpinan ulama AI-Faqih Al-Haafizh Ai-‘Allamah Abul Hasan bin Mufadhdhal Al-Maqdisy lalu aku menyalinnya. Kemudian aku bandingkan dengan naskah lain yang telah kutulis dari kitab Al-Imam Nashr Al-Maqdisy di Baitul Maqdis. Beberapa shahabat kami memperlihatkannya kepada salah seorang tokoh Jahmiyah di Baitul Maqdis yang menisbatkan diri secara dusta kepada Abul Hasan AI-Asy’ary, namun ia mengingkari dan menyangkalnya seraya berkata, “Kami belum pernah rnendengar tentang buku itu! Buku itu bukan tulisan Abul Hasan AI-Asy’ary!”

Pada akhirnya ia berusaha mengingkarinya dengan akal piciknya untuk menepis syubhat dalam otaknya, sambil menggaruk-garuk janggutnya ia berkata, “Mungkin buku ini ditulis saat beliau masih sebagai seorang hasyawi (kacau pikirannya}.”

Ibnu Darbaas berkata, “Aku tidak tahu perkara mana yang lebih aneh, apakah tentang kejahilannya terhadap kitab yang terkenal itu dan banyak disebutkan oleh para ulama dalam buku-buku mereka, atau kejahilannya terhadap kondisi gurunya dengan menisbatkan kedustaan kepada beliau dan ketenaran beliau di kalangan umat Islam baik di kalangan terpelajar maupun awam. Terhadap guru mereka yang mereka jadikan pegangan mereka berani berbuat seperti ini, apalagi terhadap para salaf dan imam terdahulu dari kalangan shahabat, tabi’in, pakar fiqih dan hadits, tentunya mereka tidak pernah mengindahkan kitab-kitab mereka dan tidak pernah memperhatikan hadits- hadits. Demi Allah mereka sangat jahil dalam perkara ini. Bagaimana tidak, sebagian dari mereka menyatakan dengan suka rela menisbatkan diri kepada Abul Hasan Al-Asy’ary, namun realitanya mereka menyelisihi kitab Abul Hasan Al-Asy’ary yang di dalamnya disebutkan tentang taubat beliau dan prinsip agama yang beliau pegang. Penulis mengambil prinsip yang tercantum dalam kitab yang pertama. Padahal yang bertentangan dengan hal itu justru lebih tepat dan lebih benar, agar sesuai dengan kaidah dan agar tercapai kata sepakat dalam masalah ini.”
Selesailah penukilan ucapan Ibnu Darbas -rahimahulloh-

Artikel: http://al-aisar.com/

2010-12-04T18:43:13+07:00